Emerald Green - Hatinya bergoyang-goyang

Terombang-ambing, ada perasaan aneh yang timbul-tenggelam menyergapku. Semacam perasaan ter(asing)kan, sebab : sejak lebih dari tiga jam lalu, yang kulihat hanya laut yang membentang. Tak ada habisnya. Aku kok jadi curiga yah, nahkodanya salah baca kordinat.

Bosan hanya duduk manis dikursi. Maka kuputuskan untuk bergabung dgn teman2 menjadi "Navigator" diatas dek Speedboad, kemudian meneriakkan apa saja yg ada dihadapan ..

"Daratannnnnnnnnnnn..."

Masih melaju dalam kecepatan 30-an knot. Rasanya barusan saja aku mengira sedang berhalusinasi, semacam gejala baru mabuk laut. Tapi perkiraanku meleset, perlahan2 horizon tipis yang tadi kutunjuk2 secara sembarangan kini terlihat mulai berbobot, menciptakan efek ambang diatas permukaan laut. Perairan disekitarnya tampak menarik, samar-samar kulihat gradasi warna hijau tumpang tindih diantara bercak-bercak warna yang gelap, mungkin karena perbedaan kedalaman yang agak ekstrim. Sekelabat kulihat didasar laut seekor binatang reptilia berukuran besar tengah melintas dan berenang dengan menggunakan sepasang tungkai depannya yang berupa kaki pendayung. Aha ... Chelonia mydas (Penyu Hijau). Besar betul, biasanya reptilia jenis itu kulihat hanya segenggaman tangan saja, tapi penyu hijau yang tadi mempunyai diameter punggung lebih dari setengah meter, berenang kearah pulau di depan sana.

Aku lantas berbisik dalam hati : "Derawan"
itu pun jika nahkoda-nya tak salah kordinat ^^

--:

Matahari baru saja naik kepermukaan, bentuk aslinya bersembunyi dibalik pendar cahaya yang disebarkannya dilangit, sebagian lagi memantul-mantul di permukaan laut, berkilauan menyapu riak-riak air yang bergantian membentuk segitiga-segitiga kecil. Beberapa perahu nelayan di ujung sana hanya membentuk siluet karna bertolak belakang dengan sebaran cahaya matahari pagi. Backlight kalau kata teman2. Tapi masih dapat kulihat perahu-perahu itu bergoyang-goyang lucu seperti orang mengantuk.

Masih terlalu pagi untuk berkeliling pulau, jadi aku dan teman2 masih belum beranjak dari jembatan kayu ulin didepan losmen yang menjorok kelaut ini. Menikmati pagi barang sepuluh-dua puluh menit lagi. Aku tersenyum dalam hati : Orang yang sedang asyik dengan sesuatu memang suka menawar-nawar waktu.

Aku pribadi suka nuansa pagi di pulau derawan. Khas kawasan pesisir. Tapi lebih dari itu aku terpesona dengan lautnya. Berwarna emerald green yang transparant hingga kedasar laut. Aku jadi ingat waktu pertama kali tiba di tempat ini kemarin sore : kulihat teman2 ternganga takjub, yang lainnya mematung sesaat, mataku kontan berbinar-binar,sementara tanganku meraba-raba sesuatu untuk digenggam, jadi gemes sendiri ngeliat air laut sebening itu.

Menit berikutnya aku merasa ada yang salah dengan pagi ini, sebab : teman-temanku segera menghambur kepesisir pulau dengan membawa bekal bola kaki. Kupikir liburan di pulau kecil di tengah laut artinya kita akan leyeh-leyeh seharian, merebahkan diri diatas pasir pantai menghadap kelaut sekedar untuk menghabiskan waktu menunggui sunset misalnya atau duduk santai diatas dermaga sambil membaca buku kesukaan. Menjuntaikan tungkai kaki, ditiupi angin pantai. Menikmati betul setiap irama yang disajikan alam, maka yang kuharapkan berbunyi hanya semilir angin, yang bergerak hanya daun-daun tua yang melayang diudara,berguguran satu-satu. Ternyata aku salah, tapi demi melihat bola bundar itu diperebutkan banyak orang, aku ga tahan.. akhirnya aku ikut juga bermain. Lari kesana,lari kesini, sepak sana, sepak sini.

Sebentar lagi, ketika keringat ditubuh ini mengering. Kita akan menuju satu titik lagi dipulau ini. Ada keindahan versi yang lain disana. Melewati dermaga itu dulu, berupa jembatan kayu ulin yang menjorok kelaut sepanjang puluhan meter.

--:



Di tempat ini, Kita seperti sedang membaca buku Ensiklopedia di perpustakaan Sekolah jaman SMP dulu. Maka halaman pertama yang aku lihat tadi ketika melintasi dermaga adalah Deadema Setosum (Sea urchin / Landak Laut) , sedang bersemayam diantara bebatuan disekitar padang lamun*. Hewan laut yang kerap ditemui didaerah pesisir pantai ini berwarna hitam-pekat, seluruh tubuhnya dipenuhi duri tipis yang tajam, berdesakan hingga tak ada lagi tempat untuk menumbuhkan kakinya. Maka ia terlihat seperti bola berduri. Yang aku ga habis pikir, kenapa hewan laut ini justru lebih dikenal dengan nama aliasnya yang satu lagi : Bulu Babi.

Halaman-halaman berikutnya ada diujung dermaga, satu titik lokasi selam scuba yang dangkal. Menikmati keindahan alam bawah lautnya dengan ber-Snorkeling atau Selam Permukaan, menggunakan peralatan berupa masker selam dan snorkel. Butuh sedikit penyesuaian memang, tapi tidak sulit kok. Kantong hidung yang terbuat dari silikone pada masker selam akan memutus jalur masuknya oksigen melalui hidung, maka sebagai konpensasinya : poses pernapasan dialihkan melalui mulut dengan bantuan selang udara pada snorkel. Suaranya asyik, dengarkan saja .. karbondioksida yang dihembuskan dari mulut melesat melewati dinding snorkel yang lebih mirip cerobong asap ini, seperti suara angin yang dihembuskan dari dalam gua, canggung tapi lucu. Suara lainnya adalah gelembung-gelembung air yang tiba2 naik kepermukaan karena pergerakan kaki kita didalam laut, dum..dum..Blup..Blup. Belakangan aku kecanduan memutar puluhan kali rekaman di dalam laut ini hanya untuk mendengarkan kedua suara itu. Oleh-oleh khas dari dalam laut.

Setelah mulai terbiasa dengan seni pernapasan mulut, maka kita tinggal menikmati alam bawah lautnya. Karna ini pengalaman pertama, jadi aku histeria melihat sebaran terumbu karang di dasar laut. Genus Acropora adalah yang paling dominan. Salah satu jenis nya berwarna kuning langsat pucat-pasi, bercabang-cabang seperti jari dengan ukuran yang sama. Karang lainnya yang kutemukan terlihat seperti labirin, dinding tepinya berwarna gelap, kontras betul dengan ujung-ujung-nya yang berwarna putih tulang. Efek rambatan sinar matahari kupikir, maka ia terlihat seperti kilatan-kilatan cahaya. Cantik, cantik seperti nama ilmiahnya : Pectinia Lactuca.



Karang Acropora.sp


Karang yang seperti labirin ini punya nama ilmiah : Pectinia Lactuca

Keindahan lainnya hadir dari ikan-ikan terumbu karang yang berwarna warni. Terutama yang berwarna true blue, Chromis viridis kalau aku tidak salah. Tubuh mungilnya bergerak-gerak aktif, kelebihan energi. Maka kelompok ikan ini selalu terlihat seperti orang panik. Berhamburan diatas terumbu karang. Dititik lainnya, koloni ikan Lutjanus fulviflamma (Black Spot Snapper) berjumlah ratusan atau mungkin ribuan, membentuk barisan yang rapat seperti kerumunan mobil terjebak macet. Tapi Perangainya anggun tak seperti ikan-ikan chromis tadi. Jadi mereka yang berada dibarisan belakang hanya berenang-renang ditempat, menunggui temannya yang berada dibarisan depan bergerak maju. Sementara itu beberapa ikan Abudefduf saxatilis (Sergeant-major fish) bertindak seperti pemimpin barisan, berenang kesana-kemari seolah mencoba meluruskan barisan ikan-ikan Lutjanus fulviflamma yang mulai renggang. Aku sendiri melihatnya sebagai sebuah harmoni : Lutjanus fulviflamma featuring Abudefduf saxatilis.


Koloni ikan Lutjanus fulviflamma featuring Abudefduf saxatilis, keren ih :)

Ikan-ikan yang cantik, tapi heran, mereka tak terusik dengan kehadiran kami. Cuek saja berenang kesana kemari, bikin gemes. Demi melihat kelakuan mereka, sejenak aku sampai lupa menarik napas. Untung saja aliran udara yang keluar dan menuju paru-paru ternyata sdh berjalan secara otomatis melalui selang udara pada snorkel. Hanya degup jantung yang masih berdegup secara tak wajar, membuat hatiku bergoyang-goyang seperti perahu-ngantuk-pagi-tadi. Aku tau penyebabnya : Dipeluk nuansa warna hijau sedemikian dalam. Membuatku mengingat seseorang. Niar, temanku itu pasti suka banget ada ditempat ini. Membayangkan ia duduk diatas dermaga itu, menyandarkan kedua tangannya didagu kemudian tersenyum-senyum melihat warna kesukaannya teradaptasi menjadi hamparan laut dengan nuansa transparant yang mengagumkan. Kuduga hatinya juga akan ber-goyang-goyang seperti perahu-ngantuk-pagi-tadi. Backlight, tapi kali ini matahari yang bertolak belakang dengan sebaran binar mata gadis ini, haha ^^

Pokoknya puas banget, padahal kita baru menikmati satu titik keindahan pulau derawan. Masih ada keindahan versi yang lain di beberapa pulau sekitar. Ada koloni ubur-ubur air tawar di pulau Kakaban atau jika beruntung, kita bisa melihat pari manta dengan diameter bentangan sayapnya yang bisa mencapai 3 meteran di pulau Sangalaki. Berhubung sudah sore, sekarang kita tinggal menunggui sunset. Membiarkan sebaran cahayanya yang kalem itu melemaskan otot-otot persendian kita yang tegang seharian ini. Memanjakan mata barang lima – sepuluh menit.

Menjelang tengah malam aku malah ga bisa tidur, selain karna kebanyakan minum kopi, aku sibuk membayangkan sesuatu yang membuatku geli sendiri : bisa berenang dalam satu wadah dengan ikan-ikan hias yang biasa kalian pelihara didalam aquarium. Jadi sekarang, setiap kali melihat aquarium yang dilengkapi terumbu karang, maka aku seperti melihat diriku berenang2 didalamnya, memakai masker selam dan snorkel. Anomali kalau kata teman2 dikantorku ^^



Tgl Posting : 13 Februari 2010
Fotografer : Fikri Syahriza
Lokasi : Pulau Derawan
Momment : 24 - 26 Oktober 2009

Labels:

Senja di Penghujung Ramadhan

Sebenarnya sudah lama aku memikirkan skenario penyambutan kepulangan teman2 kecil ku, salah satunya mengembalikan mereka semua ke kordinat waktu yang telah kutentukan..kita akan bermain2 dititik itu sambil menunggu buka puasa.

Puasa di hari2 terakhir biasanya sangat terasa dan banyak godaan, akan lebih asyik jika kita menikmati sore di alam terbuka, duduk santai dijembatan kayu ulin tempat kita berlarian dulu misalnya. Bercerita sambil menjuntaikan tungkai kaki, ditimpali cahaya matahari sore,ditiup angin laut yg sepoi2, duh ...

Aku datang berjam-jam lebih awal agar punya banyak waktu utk menguasai diri. Melihat mantan rumahku masih kokoh berdiri, ribuan fragmen mulai terhambur keluar dari kepalaku..di pelataran rumah itu, dulu seorang pria kurus nan rupawan yg juga tetanggaku, duduk dengan cueknya di depan pintu rumahku sambil bermain gitar, melantunkan sebuah lagu, menggoda teman2 wanita satu sekolahku yg sedang belajar kelompok..kalian pasti iri mendengarnya, belajar kelompok diiringi petikan gitar dan lantunan sebuah lagu ..

kusadari,
kuakui,
hati ini telah terbagi.
saat ini,
kumenanti,
kasih hilang,
ada disini.

Sepenggal lirik yg juga kusuka. Masih kucoba mengingat-ingat nama band yg menyanyikannya, tapi memori ku bubar jalan, berlarian tak tentu arah, kapan2 saja kita cerita tentang pria & lagu yg manis itu, juga gadis yg digodanya tadi ^^

Aku suka berada dalam suasana ini lagi, menikmatinya seperti anak-anak kecil itu, eh seperti aku juga ketika masih kecil dulu. Senja jadi primadonanya waktu kalau aku tidak salah ingat, merekayasa warna langit agar anak2 kecil itu segera pulang, melengangkan air laut dibawah jembatan kayu ulin didepan rumah2 yg berukuran nyaris sama...sesaat lagi, ketika seruling pertamina berbunyi meresmikan senja, ruang keluarga rumah2 itu pasti jadi ramai, "selamat berbuka" kira2 begitu maknanya. Konstruksi bangunan yang terbuat dari kayu meranti tak kedap suara membuat masing2 rumah bisa merasakan euforia kegembiraan tetangga kanan dan kirinya. Pelakunya anak2 kecil yg tak tertarik menyegerakan makan karena kuduga telah berbuka untuk pertama kalinya pada tengah hari tadi :)

Ketika tahun2 berlalu dan anak2 kecil itu mulai mengenal sekolah, maka kali ini dini hari yg jadi
primadonanya waktu, berkeliling kampung atau bermain meriam bambu. Seru juga sih, tapi mereka tak pernah tau jika sebenarnya meriam bambu itu tak lain adalah senjata makan tuan. Moncong meriam memang diarahkan berlawanan dengan kita, tapi bukan-kah bunyi khas nya akan lebih dulu menyergap telinga2 yg paling dekat dengannya, tak perduli apakah kalian di depan atau di belakang meriam itu :) Jika ditelisik, padahal suaranya akan terdengar lebih mesra jika dinikmati dalam jarak ratusan meter, maka aku lebih memilih menikmatinya di rumah sambil membaca buku...dan ketika suara meriam2 itu mulai bergema mesra ke-seantero kampung, aku tersenyum membayangkan tman2 kecilku yg bermain-main dengan meriam bambu diujung sana berlarian sambil menutup telinga ^^ dum!!

Tepukan tangan memotong ceritaku, sambil terkekeh mereka saling menunjuk, tak ada yang mau mengaku menjadi operator meriam bambu itu rupanya :)

Ramai sekali sore itu, ada banyak tawa yang mengiringi ceritra-ceritra lepas kami .. mungkin karna jembatan tempat kita duduk ini masih menyimpan riang jejak langkah kita yang segera diprotes teman2 karna seingat mereka di jembatan ini kita hampir tak pernah melangkah.

Aku paham, "melangkah" jadi prosesi yg terlalu anggun untuk anak2 kecil seperti kita ^^

Eh, tapi siapa bilang mereka tak semanis anak2 kecil jaman sekarang. Akhirnya hari ini aku mengakuinya :

Tiap sore, dari kaca reben ruang tamuku kulihat mereka wira-wiri di depan rumahku setiap pergi dan pulang mengaji : kulihat kitab itu terlalu besar untuk tubuh kecil mereka, tapi waktu itu mereka mengaku tak punya tas khusus untuk mengaji, lantas memperlakukan al-qur'an persis seperti seorang kekasih. aku ingat betul, kitab suci itu mereka letakkan di dada .. dekat sekali dengan hati, kemudian kedua tangan mereka melingkar,menjaganya di sepanjang jalan menuju Taman Pendidikan Al-Qur'an

Aku juga ingin punya kekasih saat itu, lantas belajar melantunkan apa yg tersirat di wajahnya dengan tartil" akhirnya aku mendaftar juga menjadi santri seperti mereka ^^

Ada jeda panjang setelah itu..mungkin karna semua ceritra kami telah habis menguap sejak ba'da ashar tadi dan kini mereka seperti tak ditempat, sibuk berbicara dengan diri sendiri atau mungkin sedang menikmati sore yang kian beranjak. Ku biarkan sekumpulan angin menerpa wajahku, membuatku menutup mata sembari menarik nafas dalam-dalam .. sementara kakiku masih berayaun-ayun diudara, asyik betul. Air laut yg tadi beriak-riak mulai lengang ,matahari sdh bergulir dibalik bukit diseberang sana, menyisakan siluet jingga yang menjulur-julur diantara biru langit yang menua, sudah mulai senja rupanya. Tapi masih sempat jika kita ikut berbuka di masjid terdekat, siapa tau bisa bertemu barang satu atau dua orang dari masa lalu, semoga saja ..

Seruling pertamina berbunyi, suaranya menyelinap masuk kerumah-rumah penduduk .. hadir diantara mereka seraya mengucapkan Salam & Selamat Berbuka. "Wa'alaikumsalam" , aku tergoda juga menjawabnya dalam hati.

Saat itu tidak ada yg lebih nikmat dari seteguk es belewa yg disertai basmallah, rasa manisnya serta merta menari-nari diatas lidah kemudian perlahan-lahan tanpa kita sadari mulai membasahi dinding tenggorokan dan ketika ia berlalu, dahaga kontan sirna. Kulihat salah seorang temanku sdh menguasai sepiring kue berbentuk persegi dan sedikit kenyal, terbuat dari tepung sagu aren kering yg diberi lapisan parutan gula kelapa pada bagian atasnya, lalu..ah, aku menemukan alasan kenapa tulisan ini tidak ku posting saat bulan puasa tempo hari ^^

Senja yg indah di penghujung ramadhan, sebuah bulan dimana setiap detik yang berdetak adalah
primadonanya waktu.

Semoga kita semua bisa bertemu lagi dengan ramadhan tahun depan, InsyaAllah :)


Ilustrasi : Diperankan oleh Model :)


Tgl Posting : 12 Oktober 2009
Model : Faris A. Rahman , M. Nazhir , Septian. S
Fotografer : M. Adna Miraza

Labels:

Pra Sunrise TANPA Sarung Tangan

Bromo (Part 1)

Ya ampun, baru kali ini aku lihat matahari ga percaya diri tampil dihadapan para penggemarnya.Masih gelap,dan rasanya "terang" datang dgn amat perlahan,berjinjit,mengintip malu-malu dari balik kabut ... Bagaimana kalau ia ga jadi terbit ? atau mungkin ia sedang menggoda kita, karena setelah mengintip tadi ... rupanya ia tersenyum, akhirnya ia tau ada orang Kalimantan yg datang jauh2 ketempat ini. Dan kalau ternyata itu benar, hmm...awas saja !! ada yg mau bantuin aku buat jewer kupingnya :)

Setengah terkantuk2, karena utk menikmati sunrise gn. bromo ini,perjalanan dimulai sejak pukul tiga dinihari dari tempat penginapan di kaki gunung..dgn baju yg berlapis-lapis, topi kupluk,syal, sarung tangan dan ini yg istimewa : hansaplast, ya HANSAPLAST yg diletakkan melintang diatas punggung hidung untuk mencegah hawa dingin yg "katanya" bisa saja menusuk hingga ke rongga hidung dan kalau kita tdk tahan, darah pasti meluncur dari sana...hey inikan masih "katanya", tapi tidak ada pilihan lain, sampai kita membuktikan sendiri seberapa dinginnya dipuncak nanti !! maka melintanglah HANSAPLAST itu dgn amat gagah dipunggung hidungku,tidak tanggung2,dua lapis :)

Di puncak,aku berdiri diantara orang2 asing, diam, berbicara dgn diri sendiri, tersenyum hanya dalam hati, tapi aku menikmatinya !! sungguh. Maka dengan leluasa retina mataku merekam semuanya...barisan pohon2 pinus,anak2 gunung yg menjulang,aku juga masih ingat langit sebelah timur yg merona,persis seperti kmu yg malu2 kalau sedang di puji.

Dalam posisi ini harusnya matahari sdh terbit sejak tadi, bersamaan semburat jingga yg bertebaran tak tentu arah, tapi kabut tebal diujung sana menyembunyikannya dgn sangat apik, menahan agar matahari muda itu tdk terbit terlalu pagi dan alam seolah mempersiapkan kedatangannya dgn amat sempurna .... ah, tempo !! aku mengerti sekarang.

Langit kian merona,jingga diantara sisa2 langit malam,minimalis karna tak dihiasi seekor burung pun ... Ingin berkedip, namun tak ingin rasanya kehilangan waktu menikmati pra sunrise yg amat memikat ini.


Pra Sunrise .... duh duh duh


Mataharinya malu - malu :)


HANSAPLAST ... hehehehhe ( @ nurse )


Pagi ... Selamat datang

Sunrise memang menarik tapi sebenarnya ada satu pemandangan lagi yg buat iri hati,tak pernah kuceritakan sebelumnya pada teman2 waktu di puncak tempo hari,jadi ini murni rahasia kita :

Ketika tadi berdiri diantara orang2 asing dan tersenyum dalam hati ... ya, aku tersenyum karna tidak jauh dari tempatku berdiri,aku tak sengaja melihat sepasang muda mudi duduk bersebelahan menikmati pra sunrise,sebagian wajah mereka samar ditimpali cahaya keemasan namun masih dapat kulihat binar mata mereka dan senyum yg tak pernah lepas dari keduanya.Matahari belum tampak waktu itu, jadi dapat kuperkirakan suhu udara masih berada dlm kisaran 10 derajat celcius,masih terlalu dingin,tapi kulihat mereka sdh tdk lagi mengenakan sarung tangan,menghangatkan diri dengan menggenggam tangan pasangannya, begitu erat.

Maka aku seperti melihat reka ulang peristiwa,dan dalam pandanganku,kini sebuah papan nama dari bahan kardus menggantung di dada mereka.Tulisannya sangat provokatif : "Pencuri hati 1" dan "Pencuri hati 2"... papan nama yg lain, ditancapkan begitu saja disamping lokasi,Tulisannya memancing perhatian : "Diperankan oleh Model"... aku geli setengah mati, karna dalam reka ulang peristiwa itu diriku diperankan lebih tampan dari aslinya :)

Jadi ingin cepat2 pulang,dan ketika plng nanti pokoknya aku ingin menikmati pra sunrise katulistiwa..TANPA Sarung Tangan.


Tgl Posting : 21 Mei 2009
Momment : 19 April 2009
Fotografer : M.Nazhir
Anwirman's Camera

Labels: